Thursday, November 29, 2012

Gus Dur Dihina Marah, Dulu Gus Dur Hina Al-Qur'an Kenapa Tidak Marah?


Dalam dialog Kenegaraan DPD bertema 'Pembubaran BP Migas untuk Kemakmuran Rakyat?' pada 21 November 2012 lalu, Sutan Bhatoegana tersulut emosinya, ketika Adhie Massardi, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih mengatakan migas menjadi ajang korupsi mafia migas yang dilindungi rezim SBY.


Mendengar itu, Sutan melontarkan pernyataan kalau pemerintahan Gus Dur dilengserkan karena terlibat skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate.

Pernyataan Sutan itu langsung mendapat kecaman dari elemen Nahdlatul Ulama di berbagai daerah. Bahkan berbagai aksi demonstrasi pun digelar untuk mengutuk Sutan Bhatoegana yang telah dianggap menghina Gus Dur.

Tak ketinggalan, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menyatakan akan melaporkan Sutan Bhatoegana ke Mabes Polri. Jika dalam waktu 1x24 jam sejak hari ini, Rabu (28/11), dia tidak menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada keluarga besar Abdurrahman Wahid, Ansor dan warga Nahdatul Ulama (NU).

"Kami akan tunggu, jika dia (Sutan) tidak menyampaikan permintaan maaf, segera besok kami laporkan ke Mabes Polri atas dugaan fitnah terhadap Gus Dur," kata Ketua GP Ansor Jawa Timur, Alfa Isnaeni, di Kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/11).

Anehnya sikap GP Anshor yang membela Gus Dur itu tak terlihat saat umat Islam di berbagai daerah melakukan protes atas penghinaan Nabi Muhammad dalam film Innocene of Muslim.

Bahkan ormas yang kerap menjaga gereja dan pasang badan melindungi Ahmadiyah ini juga tak bersuara ketika mendiang Gus Dur dahulu pernah menghina Al-Qur’an sebagai kitab paling porno.

Sekedar mengingatkan, peristiwa pelecehan itu bermula ketika dalam sebuah wawancara yang direlease dalam situs Islam Liberal, dengan beraninya Gus Dur menghina Al-Qur‘an sebagai kitab suci terporno di dunia. “Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al-Qur’an, ha-ha-ha...” katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Melihat fenomena tersebut, ustadz Fauzan Al-Anshari menyatakan bahwa hal itu merupakan bentuk ashobiyah.

“Itulah tanda ashobiyah (fanatisme golongan) bagi siapa saja yang hanya marah karena golongannya dihina,” kata aktivis Masyarakat Peduli Syariah (MPS) itu kepada voa-islam.com, Rabu (28/11/2012).

Ia menambahkan, boleh saja marah jika yang dihina adalah orang yang mulia. “Kalau memang orang yang dihina itu mulia pantas untuk marah, tetapi kalau yang dihina itu memang hina ya tidak perlu marah, kalau marah maka dia jahiliyah (bodoh),” imbuhnya.

Dengan bijak ustadz Fauzan pun menyampaikan nasehatnya bahwa seorang muslim harusnya marah karena Allah, hal itu dibuktikan ketika ayat-ayat Allah dilecehkan.

“Seharusnya seorang Muslim marah karena Allah dan suka karena Allah dibuktikan dengan marah jika ayat-ayat Allah atau sunahnya dilecehkan orang. Nabi sendiri tidak marah dikatakan majnun (gila) tukang sihir, penyair dan lain-lain oleh kafir Quraisy tapi Nabi marah jika ayat-ayatNya diledek,” terangnya.

Terakhir ia mengingatkan bahwa dengan nama Anshor seharusnya menjadi penolong agama Allah bukan penolong Gus Dur.

“Kalau namanya Anshor itu maknanya penolong agama Allah seperti terdapat dalam Surat Ash-Shaff ayat 14:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Jadi Anshor itu bukan penolong Gus Dur atau tokoh manapun, jika bersalah harus dihukum karena manusia tidak ada yang ma'shum,” jelasnya. [Ahmed Widad]


No comments:

Post a Comment